Cinta Ibu
"Cepat pulang, ibu jatuh!" Mataku seketika berkabut dan jantungku berdetak lebih kencang saat membaca pesan singkat Sarah, adikku di layar ponsel. Beragam pertanyaan dan pikiran buruk bergelayut di kepalaku. Ibu jatuh di mana? Bagaimana keadaan ibu sekarang? Parahkah luka ibu? Tuhan, tolong jangan ambil ibuku sekarang. Lalu, kejadian demi kejadian bergerak dengan cepat tanpa aku sadari. Aku pulang ke rumah. Menemui ibu yang terbaring lemah, memakaikan pashmina di atas dasternya supaya ibu tidak kedinginan. "Ibu jatuh saat menjemur pakaian," kata Sarah dengan bibir bergetar.
Aku tak sempat bertanya lagi, kupanggil taksi lalu membawa ibu ke rumah sakit. Setelah mendudukkan ibu di sebuah bangku panjang, aku berlari ke bagian pendaftaran. Dalam sekejap seorang perawat datang, mendudukkan ibu di kursi roda, lalu membawanya ke ruang ronsen. Sesaat kemudian ibu telah ditangani dokter bedah tulang. Di luar, di kursi tunggu, aku menunggu dengan perasaan tak menentu.
Keluar dari ruang ronsen, aku dan ibu menunggu pemeriksaan lebih lanjut dan menunggu hasil ronsen di ruang tunggu. Tidak ada luka berdarah di tubuh ibu. Yang terlihat parah hanya tangan kanannya yang terkulai, patah! Yang kami kuatirkan adalah kondisi jantungnya. Ibu menderita jantung bawaan. Kesehatan ibu semakin buruk setelah kadar gula darah dan kadar kolesterol di darahnya meninggi.
Mata ibu terpejam, kulitnya terlihat pucat. Wajahnya yang dipenuhi keriput masih terlihat cantik. Ibu memang ayu, wajahnya mirip eyang kakung yang terkenal tampan. Menurut adikku, ibu cantik seperti ibu pejabat. Aku tidak tahu ibu pejabat yang mana yang dia maksud, tapi aku tidak suka ibu pejabat yang rambutnya bersasak tinggi dengan wajah penuh riasan tebal, berbaju dan perlengkapan lainnya yang bermerk dan tubuhnya bertabur berlian tetapi hanya sibuk ke salon dan arisan. Aku lebih suka ibuku yang berdandan sederhana tapi selalu terlihat cantik, lembut dengan tutur kata yang halus dan betah di rumah mengasuh anak-anaknya.
Setelah merapikan ujung pashmina ibu yang menjuntai ke lantai, aku mulai memperhatikan ruang tunggu. Ruang tunggu itu terletak di lorong panjang yang lebarnya sekitar empat meter. Di sebelah kiri pintu dokter ada kursi yang dideretkan berbentuk huruf L. Aku dan ibu duduk di bagian ujung kursi yang panjang. Di bagian yang pendeknya seorang ibu yang berbaju hijau memangku anaknya, tersenyum dan menyapa dengan ramah.
“Ibunya sakit? Kunaon, neng?”
“Iya, bu. Ibu saya jatuh,” aku menjawab pendek. Dalam kondisi tertekan biasanya aku irit bicara. Apalagi tekanan itu berbentuk ibu yang masih juga menutup matanya dengan tangan patah dan belum diperiksa dokter, sehingga tidak tahu parah tidaknya luka ibu. Akhirnya aku malas untuk membicarakannya.
Tanpa diminta, ibu berbaju hijau itu menceritakan luka anaknya. Anaknya yang berumur lima tahun sedang bermain di bukit kecil di belakang rumahnya ketika sebuah batu besar dari atas bukit menggelinding dan menyeret tubuh kecilnya. Sebelah kaki anak itu remuk. Sudah 44 kali ibu itu bolak-balik ke rumah sakit mengantar anaknya berobat.
Aku membatin, empat puluh empat kali? Aku mulai tertarik dan bersikap lebih ramah kepada ibu itu sambil memperhatikan luka anaknya. Betis kiri anak itu lapisan dagingnya hanya sedikit, beberapa bagian terlihat tulangnya. Ada beberapa besi penyangga yang ditanam di antara lutut dan pergelangan kaki untuk melindungi betisnya. Ibu itu semakin semangat menceritakan perjuangannya mengobati anaknya supaya tidak cacat di luar kegiatannya sebagai pedagang sayur di pasar. Aku tersenyum dan merasa ikut bahagia ketika dia begitu gembira mengatakan bahwa anaknya akan mampu berjalan lagi. Ibu yang luar biasa!
Aku termenung setelah tubuh ibu itu lenyap di balik pintu ruang dokter. Perjuangan para ibu memang hebat, termasuk ibuku. Ibu jarang sekali mempunyai pembantu di rumahnya. Semuanya dikerjakan oleh tangan ibu. Mencuci baju, memasak, membersihkan rumah, menjahit baju ayah dan anak-anaknya, dan masih banyak lagi pekerjaan lainnya yang rutin dan tidak terlihat hasilnya.
Untuk menambah uang belanja, ibu kursus merias pengantin, menjahit baju yang kemudian dijual teman-temannya. Akibat banyak menjahit dengan mesin jahit kuno yang digerakkan kakinya, ibu juga pernah mengalami pendarahan, rahimnya terganggu. Ibu juga membuat kue-kue basah yang dititipkan di warung dan di sekolah. Sebelum pergi ke sekolah, aku dan Sarah yang bertugas membungkus kue-kue itu. Dalam kondisi mengandung, ibu juga tekun mengurus peternakan ayam di rumah. Bau pakan ayam petelur itu sering membuat ibu mual dan muntah, tapi ibu tidak menyerah karena uang yang didapatkan dari penjualan telur ayam itu begitu berarti untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Begitu indah cinta ibu dalam kerja kerasnya untuk keluarga, seperti indahnya warna pelangi.
Rasa haru membuncah di dada saat melirik wajah ibu yang masih memejamkan matanya. Aku menelan ludah dan menghapus sudut mataku yang basah. Pelan-pelan aku menggeser tubuh ringkih ibu, memeluknya dengan lembut.
Kehangatan tubuh ibu membuat ingatanku melayang ke satu cerita. Seorang laki-laki datang menemui Rasulullah saw dan bertanya, “Siapakah manusia yang paling berhak aku pergauli dengan baik?” Beliau menjawab, “Ibumu!” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Rasulullah menjawab lagi, “Ibumu!” Ia kembali bertanya, “Siapa lagi?” Rasulullah kembali menjawab, “Ibumu!” Laki-laki itu masih penasaran, ia bertanya lagi, “Siapa lagi?” Rasul menjawab, “Ayahmu!”
Ibu memang pelangi cinta abadi yang pendaran warnanya begitu indah. Cintanya tanpa batas. Tidak berarti cinta kita terhadap ayah hanya sepertiga cinta ke ibu, tapi cerita itu bagiku menggambarkan kewajiban kita untuk menyayangi ibu begitu besar. Ibu yang mengandung, menyusui, merawat dan mendidik anak-anaknya dengan tulus. Bahkan saat ibu jatuh pun, niat ibu sebenarnya baik. Beliau ingin baju dan perlengkapan lainnya kering sempurna di tempat jemuran supaya keluarganya merasa nyaman dan tetap sehat, salah satu keindahan sinar pelangi cinta ibu.
Saputangan ibu jatuh dari genggamannya. Ibu tidak pernah mau mengganti saputangan kainnya dengan saputangan tissue yang lebih praktis. Mungkin ibu akan lebih mencintai saputangan kainnya jika mengetahui banyaknya pohon yang dihancurkan untuk membuat tissue.
Aku menggeserkan badan dari tubuh ibu, merunduk mengambil saputangannya. Sekilas aku melihat kaki ibu yang hanya memakai sandal jepit, aku tidak sempat mengganti daster dan sandal jepit ibu. Kaki ibu mengingatkan aku ke kisah lain tentang seorang laki-laki yang berkata kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, aku ingin berjihad di jalan Allah.” Rasul bertanya, “Ibumu masih hidup?” Saat laki-laki itu mengangguk, Rasul berkata, “Taatlah kepadanya. Di kakinya ada surga.”
Aku memeluk ibu lebih erat. Aku berjanji akan lebih taat. Aku akan lebih bersikap baik terhadap ibu. Aku akan lebih menyayangi ibu. Selamanya.
Tangan ibu sudah diberi gips. Kata dokter, ibu harus banyak istirahat, makan makanan bergizi selain minum obat. Ibu juga harus teratur kontrol kesehatannya ke dokter. Terakhir, dengan senyumannya, dokter meyakinkan aku bahwa ibu akan segera sembuh.
Duh, rasanya itu senyuman terindah yang pernah aku lihat. Dokter di hadapanku itu bagaikan malaikat penolong yang paling tampan sedunia. Sungguh, aku sangat bahagia.
Usai mengurus biaya pengobatan ibu, aku pulang dengan hati berbunga-bunga. Tuhan masih memberi kesempatan kepadaku untuk menikmati pelangi cinta ibu yang indah. Pelangi yang cahayanya akan terus berpendar sepanjang hidupku.
Terima kasih, Tuhan. Izinkan hamba selalu berbakti kepadanya.(*)
Category: Kisah Ibu





0 komentar