Zulkandar |
08.07.00 |
0
komentar
Tidak mudah mempunyai ibu seperti ibuku. Ibuku orangnya sangat temperamental, pemarah, dan depressif. Sewaktu aku kecil ibuku senang sekali membentak. Hal sepele bisa membuatnya marah besar. Bahkan bila yang membuat kesalahan adalah orang lain, maka seisi rumah akan jadi sasarannya., termasuk ayahku. Ayahku adalah sosok malaikat bagiku.
Pendiam, sabar, dan tidak pernah membalas umpatan dan kata-kata kasar ibuku. Ibuku menikahi ayahku pada umur 15 th, sedangkan ayahku sudah berumur 30 th. Kematangan umurnya yang membuat ayahku menjadi bijak menghadapi ibuku yang emosional. Sayang, ayahku meninggal pada usia 46 th, dan ibuku telah menjadi janda pada umur yang masih terbilang muda yaitu 31 th. Ibuku hanya memiliki toko kelontong kecil dan beberapa petak sawah untuk melanjutkan hidupnya dan membiayai sekolah anak-anaknya sepeninggal ayahku.
Aku ingat sewaktu aku kecil dulu, aku mendapatkan peringkat kedua di kelasku. Reaksi ibuku adalah sangat kecewa dengan prestasiku, karena ibuku menginginkanku menjadi peringkat pertama. Tidak ada sedikitpun pujian yang keluar dari mulut ibuku untuk setidaknya aku telah berhasil mengalahkan 23 murid yang lain dan hanya gagal mengalahkan satu orang murid saja. Hal ini menyebabkan rasa percaya diriku menjadi rendah hingga saat ini. Aku juga menjadi orang yang takut mencoba karena takut berbuat salah. Ibuku selalu mencela apapun yang aku lakukan.
Aku tahu, masa kecil ibuku juga tidak bahagia. Ibuku adalah pengais bungsu dalam keluarga besarnya. Saudara kandungnya berjumlah 11 orang, 9 laki-laki dan 2 perempuan. Walaupun ibuku adalah anak perempuan kedua selain kakak sulungnya, tetapi hal ini tidak membuat nenekku menjadikan ibuku sebagai anak kesayangan. Sebaliknya malah. Seluruh pekerjaan rumah harus ditanggung oleh ibuku, karena anak perempuan yang satunya yaitu kakak sulung ibuku telah menikah sewaktu ibuku masih kecil. Anak kesayangan nenekku adalah adik langsung ibuku, yang umurnya tidak jauh berbeda dengan ibuku. Karenanya rasa cemburu ibuku kepada adiknya ini menjadi berlebih-lebih karena umur yang bedekatan ini. Ditambah lagi sikap nenekku yang sering menganaktirikan ibuku dan juga sering memukul ibuku bila berbuat salah. Bahkan bila nenekku mendapat pengaduan bohong dari adik ibuku, maka nenekku akan langsung memukul dan menyalahkan ibuku untuk kesalahan yang tidak dikonfirmasi terlebih dahulu.
Aku pikir sebenarnya ibuku ingin tidak bersikap begitu kepada anak-anaknya. Kadang ibuku bersikap sangat manis kepadaku setelah membentak-bentakku tanpa kendali. Aku dimandikannya, kemudian didandani dengan rambut kucir dua diatas, dibedaki, kemudian disuapi. Berat memang beban hidup ibuku. Masa lalu yang berantakan, menjadi janda di usia belia dengan tanggungan tiga anak perempuan yang masih kecil-kecil. Ketika aku duduk di bangku SMA ibuku sering mengeluhkan hidupnya yang tidak mudah. Kasus-kasus pemukulan oleh nenekku terus diulang-ulang diceritakan kepadaku, hingga menjadi trauma tersendiri bagiku. Ibuku juga sangat sering mengulang-ngulang keinginannya untuk mati, dihadapanku yang masih sangat muda dan naif ini. Kupikir, sangat tidak bijak bila ibuku mengeluhkan masalahnya pada anak yang belum tamat SMA sepertiku. Tetapi, ibuku tak punya tempat lain untuk mengeluarkan keluh kesahnya.
Beda umur antara aku dan kakakku sangat jauh, yaitu 8 th dengan kakak pertamaku dan 6 th dengan kakak keduaku. Sewaktu kakak-kakakku kuliah keluar kota, maka akulah yang tersisa di rumah untuk menampung semua curahan hati ibuku yang terpicu oleh beratnya menanggung beban biaya kuliah kedua kakakku. Ibuku juga tidak terlalu akur dengan kakak-kakakku. Mungkin karena kakak-kakakku sering tidak sabar dan mengambil sikap melawan terhadap celaan-celaan ibuku. Sedangkan aku lebih memilih diam dan memendam, karena daya juangku sudah dimatikan oleh ibuku sendiri tanpa disadarinya dari semasa aku kecil dulu. Mengeluh..mengeluh.. sepertinya sudah mendarah daging dalam hidupnya, dan akulah korban keluhan-keluhannya.
Sebenarnya aku merasa ibuku adalah seorang wanita perkasa. Ibuku pandai memasak, menjahit, dan juga sukses membiayai ketiga anaknya kuliah hingga tamat tanpa didampingi suami. Ibuku sering memasakkan makanan kesukaanku, kadang juga membuatkan kue untukku. Sewaktu aku masih kecil ibuku juga rajin menjahitkan aku baju, tetapi ketika aku sudah beranjak dewasa ibuku jarang membuatkan aku baju lagi karena selera bajuku yang sudah berbeda dengannya. Ibuku juga selalu menciumku sebelum berangkat ke sekolah, sesibuk apapun dia melayani pembeli.
Beberapa tahun lalu ibuku masih sering berkunjung ke rumahku yang berjarak 1000 km dari rumah ibuku. Sambil membawakanku oleh-oleh makanan kampung kesukaanku atau kadang dibawakannya aku makanan khas masakan ibuku. Aku masih bisa merasakan rasa kasih yang ingin dipancarkannya kepadaku dengan segala keterbatasan pengendalian emosinya. Walaupun biasanya sesampainya di rumahku ibuku ingin buru-buru pulang lagi kerumahnya. Ibuku tidak betah tinggal dirumah anak-anaknya, padahal sebenarnya ibuku merasa kesepian tinggal sendirian di rumahnya. Sedangkan bagiku juga sulit untuk meluangkan waktu mengunjunginya lebih dari sekali setahun karena kesibukanku juga.
Tetapi sekarang ibuku sudah menua. Penyakit mulai banyak hinggap dibadannya. Diabetes, osteoporosis, tekanan darah tinggi, dan rematik adalah penyakit langganan ibuku. Toko kelontong kecilnya juga sudah tidak dikelola lagi olehnya. Mungkin karena kurang kesibukan dan badannya yang sering tak bisa diajak kompromi, maka ibuku mulai depresi. Semangat hidupnya juga semakin melemah. Toh, anak-anaknya sudah jadi orang semua, demikian alasannya bila aku menasehatinya agar tidak menyerah pada penyakitnya. Kadang aku sampai demikian jengkelnya kepada ibuku karena ibuku tidak mau berobat bila penyakitnya datang. Alasannya biarpun diobati nanti juga kambuh lagi. Rasanya seperti menghadapi orang yang ingin bunuh diri.
Sekarang aku sudah dewasa, baik secara umur maupun (mudah-mudahan) secara jiwa. Walaupun trauma dengan ibuku masih tersisa, tapi aku mencoba berdamai dengannya. Kalau aku pulang ke rumah ibuku, aku masih berusaha setia menampung keluhan-keluhannya yang kadang terlalu mengada-ngada. Tapi aku sudah lebih pandai memilah-milah mana yang harus ditanggapi serius atau didiamkan saja. Karena kehadiranku pada masa-masa sulit ibuku maka ibuku memang paling dekat denganku, hingga saat ini.
Ibuku, aku tahu kau mencintai kami semua, walaupun kadang engkau tak tahu harus bagaimana. Sosok ibu dalam hidup ibuku hampir tidak ada, karena nenekku seolah menganggap ibuku tidak ada, atau bahkan hanya menganggap ibuku sebagai pembantu rumah tangga. Tapi aku tahu ibuku terus berusaha mengatasi trauma-traumanya. Ibuku sering bilang kepadaku, “Nduk, ibu ini orang bodoh, hanya lulusan SR (Sekolah Rakyat, sama dengan SD jaman sekarang). Ibu juga tidak pernah pergi lebih jauh dari ibukota kabupaten, jadi ibu tidak punya pengalaman apa-apa untuk mendidik kalian. Ibu hanya bisa berdoa semoga kalian menjadi anak yang sukses dan bahagia, karena ibu tak tahu harus berbuat apa agar kalian menjadi bisa. Ibu hanya berusaha sekuat tenaga menjadi ibu yang baik, kalau gagal ya tolong diterima apa adanya.”
Ibuku, darimu aku belajar cinta yang sulit dan rumit. Cinta yang harus tarik menarik antara trauma dan keikhlasan menerima apa adanya. Tidak mudah bagiku untuk sampai pada fase ini, dengan semua luka yang pernah kau toreh pada jiwa rapuhku. Tetapi aku akan terus berusaha, seperti halnya engkau juga berusaha mengatasi kejadian-kejadian tanpa sengaja dari masa lalu kita. Bagaimanapun, surga itu masih ada disana, dibawah telapak kakimu yang penuh darah dan nanah derita. I love you mom, whoever you are.
Category:
Kisah Ibu
0 komentar