Mama, Jangan Paksa Aku
Saat itu kami tinggal di sebuah kota di Lampung, aku berumur delapan tahun, mendekati sembilan tahun duduk di kelas satu SD. anak sulung dengan tiga orang adik perempuan dan tiga adik lelaki, jarak umur kami masing-masing satu tahun. Orang tuaku miskin dan kami tinggal di rumah kontrakan yang berhalaman luas dengan pagar bambu. Selain memelihara ayam dan bebek, kami juga menanam sayuran untuk di makan sendiri, kangkung, bayam, labu siam, oyong, labu emas, cabe, jahe. Juga banyak bunga mawar.
Saya lupa nama permainan itu namun ingat cara bermainnya. Saya membuat kesepakatn dengan seorang teman. Apabila saya memegang sesuatu dan teman itu berhasil menjatuhkan barang itu, maka barang saya yang jatuh itu akan menjadi miliknya. Ketika bertemu, kami akan mengucapkan sebuah KATA yang berarti permainan itu DITUNDA hingga pertemuan berikutnya.
Suatu sore, saya keluar dari pintu pagar bambu rumah kami sambil membawa sebuah bola plastik. Bola warisan dari penghuni rumah yang kami sewa saat itu. Saya lengah dan bola itu jatuh ketika teman saya menepak bola itu dari belakang. Bola plastik itupun lalu menjadi miliknya. Salah satu adik saya mengadukan hal itu kepada mama. Dia MARAH bukan kepalang.
Dengan suara melengking, mama memanggil saya pulang. Mama sering menghajar saya dengan apa saja. Sapu lidi, sabuk, rotan, kayu, bahkan dia pernah menghajar kepala saya dengan botol susu yang terbuat dari melamin hingga botol itu pecah. Namun kali itu dia tidak menghajar saya. Dia duduk di kursi meja makan dengan sebuah pisau terletak di meja. Setelah saya mandi dan duduk rapih di bangku di hadapannya, dengan suara tenang, dia memaksa saya BUNUH diri dengan pisau itu. Menurutnya, saya tidak berguna. Apa yang terjadi bila saya sedang menggendong adik saya lalu teman saya berhasil menjatuhkannya?
Saya benar-benar KETAKUTAN. TAKUT mati! Saya tidak menangis karena sejak kecil, bila dihukum dan tahu salah, saya tidak akan nangis apalagi melarikan diri ketika dihajar. Saya akan diam menerima semua hukuman itu dengan tabah. Bila dihajar namun tidak salah, maka saya akan lari. Ketika ditangkap dan dihajar lagi, saya akan diam menghadapi hukuman namun menangis. Itulah cara saya unjuk rasa.
Namun, kali itu saya benar-benar ketakutan, takut MATI, saya tidak berani BUNUH diri. Saya diam sambil berdoa di dalam hati kepada Thi Kong (Tuhan) dan dewa dewi yang saya kenal. Apabila diberi kesempatan hidup, maka saya akan menjadi anak yang baik. Akhirnya Mama memaafkan saya dengan syarat saya harus membantunya bekerja dan menjaga adik-adik serta tidak boleh keluar dari pagar rumah kami.
Sejak itu, saya tidak penah main lagi dengan teman-teman setelah pulang sekolah. Saya takut MAMA marah dan memaksaku bunuh diri lagi. Hal itu berlangsung berhari-hari, berminggu-minggu, beberapa bulan sampai kami pindah ke pulau Jawa. Namun, kisah itu tidak pernah hilang dari ingatan saya.
Sejak kecil saya merasa tidak disayang baik oleh Mama maupun Papa. Sejak kecil saya merasa tidak bisa mengandalkan mereka. Ketika pulang babak belur, mereka tidak akan bertanya kenapa saya berkelahi, mereka akan memaki-maki saya sambil menghajar saya dengan rotan, lidi atau sabuk. JANGAN! TIDAK BOLEH! Itulah yang selalu kudengar dari mereka. Bo Lo IONG (Tidak berguna), itulah makian yang selalu saya terima.
Ketika pulang membawa anak burung, mama akan membuangnya lalu menghajar saya. Ketika pulang membawa ikan, mama akan membuangnya lalu menghajar saya. Mama rajin sekali menghajar saya dan menyatakan saya salah tanpa memberi penjelasan apa kesalahan saya. Ketika merasa HAJARAN tidak mempan, kedua orang tua akan menelanjangi saya. Karena telanjang, saya terpaksa bersembunyi di bawah ranjang. Karena hukuman telanjang dianggap tidak mempan, mereka akan menggantungi saya yang telanjang dengan tutup kompor (saat itu banyak tutup kompor di rumah kami karena mama membuat kueh semprong). Papa sering menggantung saya dengan tali ijuk yang diselipkan di ketiak. Saya harus jinjit untuk menghindari rasa sakit yang diakibatkan oleh tusukan tali ijuk. Di hajar, ditelanjangi, digantungi barang-barang, digantung. Ketika berbuat salah, saya menerima hukuman dengan tabah, namun yang sering terjadi adalah saya dihukum tanpa melakukan kesalahan, bahkan saya dihukum untuk kesalahan yang dilakukan adik-adik saya.
Sejak hari itu, saya selalu hidup dalam ketakutan. Saya takut MATI. Saya takut mama memaksa saya bunuh diri. Sejak hari itu, saya mulai hidup sendirian dan menyelesaikan semua masalah yang dihadapi, agar mama tidak menganggap saya salah dan memaksa saya bunuh diri. Sejak hari itu saya belajar untuk tidak menyayangi siapapun, Mama, Papa juga adik-adik saya. Saya takut MATI dan kehilangan mereka semua. Sejak saat itu saya memikirkan KEMATIAN.
Category: Kisah Ibu





0 komentar