Aku Benci Ibu
“Ibumu melakukan dengan cinta dan kasih sayang,” katanya dengan gerakan tangan yang mengatakan hal yang sama. Aku jujur saja lebih menyayangi Ustad Andi ketimbang ibuku kandungku sendiri. Yang kadang-kadang aku ragukan apakah benar ia yang telah mengandung dan melahirkanku?
Tubuh lemahku, yang bahkan berdiri dan berbicara saja tidak mampu, sering sekali ia jadikan alas untuk membersihkan sendalnya yang selalu kotor. Aku tahu surga di bawah telapak kaki Ibu, dan aku yakin dengan kebenaran kata-kata indah itu. Oleh karena itu aku tidak keberatan dimaki, karena aku memang tidak bisa mendengar.
Tapi aku merasa heran dengan penglihatanku.Joko, sahabatku yang lemah sepertiku, saat kecil diperlakukan berbeda. Tentu saja oleh ibu kandungnya sendiri. Ibu kandungnya pun baik padaku. Dia tidak pernah menumpahkan minuman berbau alkohol ke atas kepalaku bila sudah mabuk. Aku maklum karena ia memang tidak pernah mabuk seperti Ibuku tercinta.
Dia sering mengajakku berbicara dengan bahasa yang dikenal oleh orang yang tidak mampu berbicara dan mendengar, seperti ku. Tutur katanya lembut dan selalu menyayangi Joko, anak kandungnya sendiri.
Tiba-tiba aku terkejut dengan sentuhan lembut dan tegas yang mendarat dibahuku yang terasa semakin pegal setelah entah sudah berapa jam aku mengepel lantai Stasiun Kereta Kota. Aku mengerti Pak Iwan ingin berkata, “Teruskan kerjamu Ahmad, jangan bengong, masih banyak pekerjaan lain yang perlu kamu lakukan.”
Aku meneruskan pekerjaanku yang kudapat sebagai hadiah ulang tahun yang ke lima dari para tetanggaku yang prihatin dan mungkin sekaligus kesal melihatku mengemis. Aku mencintai pekerjaan ini. Pekerjaan yang sangat sesuai dengan keahlianku. Tidak perlu berbicara atau berdiri, cukup dengan menggosok-gosokkan lantai sampai bersih.
Sudah dua hari aku meminta libur oleh Pak Iwan karena Ibuku tersayag sedang sakit. Sesungguhnya ia merasa berat hati memberikanku waktu libur ini. Untung saja Ustad Andi membantu meyakinkan bosku yang baik hati itu. Lagi-lagi pak ustad yang berkening hitam dan berwajah teduh itu mengingatku satu hal yang mungkin sudah menjadi motto hidupku. “Surga berada di bawah telapak kaki ibu.”
Sudah dua hari ini pula aku mengompres ibuku karena tubuhnya panas diatas ranjang yang dingin dan keras. Kemarin pak ustad membawa pak dokter dari puskesmas untuk memeriksa ibu. Setelah itu pak dokter berbicara dengan pak ustad dan pak ustad tidak mengatakan apapun dari pembicaraan itu.
Pak ustad hanya memberikanku buku yang berisi Surat Yasin dan berkata, “mohonkanlah kesembuhan ibumu pada Allah dan bacalah ini untuk ibumu.” Aku tidak bisa protes dan memang tak ingin protes bila itu demi kebaikan ibuku.
Tiga hari setelah kejadian tersebut pak ustad membawa seorang pria dan wanita yang sudah cukup berumur, tapi tampak sehat. Mereka mengenakan pakaian terbagus yang pernah aku lihat. Lalu mereka memberikan uang kepada pak ustad dan aku. Tapi ada satu pemberian yang membuat hatiku berteriak kegirangan. Yaitu cereal yang pernah sekali diberikan oleh temanku Joko.
Aku jadi ingat entah sudah berapa tahun yang lalu Joko memberikannya kepadaku.
Esok harinya aku membuat cereal itu, betapa lezatnya makanan itu. Rasanya sangat manis dan tidak dapat diungkapakan dengan kata-kaya. Saat cereal itu tinggal setengah aku teringat ibuku yang sudah seminggu ini tidak beranjak dari tempat tidurnya.
Aku menghampirinya dan menyuapkannya pada ibuku sambil berkata dalam hati, “makanlah Bu, supaya kau cepat sehat. Dan lihatlah sendalmu sudah kotor karena tak dapat kau bersihkan lagi diatas kepalaku. Nanti jika kau sudah sembuh dengan senang hati rambutku yang lusuh kupersembehkan untuk sendalmu itu, benda termewah yang pernah kau miliki.”
Aku melihat ibuku tidak mampu memasukkan ke dalam tenggorokannya. Aku lihat ia tidak mampu membuka mata yang biasanya menatap tajam dan penuh marah ke padaku. Aku perhatikan lagi, ibuku tidak lagi mengeluarkan air liur dari mulutnya.
Ternyata ibuku juga tidak bernapas. Aku hanya diam menyaksikannya. Lalu aku kembali menyantap cereal ku yang tidak mungkin kuberikan pada ibu. Namun rasanya kini berbeda cereal itu tidak lagi manis. Akhirnya kusadari bahwa ternyata aku telah mencampurkan air mataku kedalamnya secara tidak sengaja. Pantas saja Ibuku mati.
Category: Kisah Ibu





0 komentar